Jumat, 07 Juni 2013

K3LH ( MANAJEMEN RISIKO TEKNISI AC )



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan manusia memang tidak bisa dipisahkan oleh teknologi. Begitulah kenyataan yang terjadi pada zaman modern ini. Manusia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada alam. Mereka telah menciptakan berbagai macam teknologi yang dapat membantu manusia. Salah satunya adalah Air Conditioner. Teknologi ini memang cukup populer sebagai pendingin udara. AC merupakan alat pendingin udara selain kipas angin. Bahkan hampir disetiap rumah memiliki AC. Tidak digunakan untuk mendinginkan ruangan saja, AC banyak dipasang di mobil-mobil yang beredar dipasaran. AC sepertinya merupakan alat pendingin udara yang vital.

Dibalik kepopuleran AC sebagai alat pendingin udara, banyak para teknisi yang bekerja dibelakangnya. Mulai dari membuat komponen komponen AC, merakit komponen AC, hingga memperbaiki kerusakan AC. Pada kesempatan ini, penulis membahas tentang calon teknisi AC yang kelak akan bekerja di dunia kerja. Meskipun belum sepenuhnya berperan dalam dunia kerja, namun tentunya dalam melakukan praktek kerja para teknisi mempunyai potensi hazard yang dapat membahayakan mereka. Potensi- potensi hazard tersebut akan dibahas pada bagian selanjutnya dan penulis akan memberikan solusi terhadap hal tersebut.


B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
            Untuk mengetahui bagaimana manajemen risiko pada kegiatan reparasi AC di SMKN 5 PEKANBARU.

2. Tujuan khusus
1)      Untuk mengetahui persiapan dalam manajemen risiko pada Teknisi AC
2)      Untuk mengetahui identifikasi dalam manajemen risiko pada teknisi AC.
3)      Untuk mengetahui analisa risiko dalam manajemen risiko pada teknisi AC.
4)      Untuk mengetahui evaluasi risiko dalam manajemen risiko pada teknisi AC.
5)      Untuk mengetahui pengendalian risiko dalam manajemem risiko pada teknisi AC.

c. Manfa’at Penelitian
1. Bagi teknisi
1)      Dapat menjadi referensi bagi para teknisi AC tentang potensi bahaya kecelakaan kerja yang bisa didapat dari rutinitas bekerja sehari-hari dari yang paling sering terjadi sampai kepada kecelakaan paling berat yang mungkin dihadapi teknisi AC
2)       Dapat mengetahui cara pengendalian risiko guna mengurangi bahaya kecelakaan kerja pada teknisi AC.

2. Bagi penulis
1)      Menambah pengetahuan tentang manajemen risiko bagi penulis
2)      Sebagai referensi bagi orang tua penulis yang membimbing para calon teknisi AC



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian AC
AC adalah suatu alat elektronik yang berfungsi untuk mendingikan suatu ruangan. Alat alat AC terdiri dari :
1. Kompresor yang berguna untuk memompa isi refrigan kedalam kondensor,
2.kondensor fungsinya untuk kondensasi yang merubah refrigan bentuk gas menjadi cair,
3. pipa kapiler yang berguna untuk membuat tekanan tinggi menjadi rendah
4. evaporator, yang berguna untuk mengubah refrigan bentuk cair menjadi gas kembali. Refrigan dalam evaporator terjadi penguapan sehingga membutuhkan kalor, kalor ini diambil dari pipa evaporator sehingga ruangan sekitar evaporator menjadi dingin
Pada saat ini AC ( air conditioner ) untuk rumah tangga berjenis AC Split ( terpisah ) Yang berarti indoor dan outdoor diletakkan secara terpisah. Indoor berada didalam ruangan yang didalamnya terdapat evaporator sehingga ruangan menjadi dingin. Sedangkan outdoor didalamnya terdapat kondensor sehingga kalor dibuang diluar ruangan. Pada zaman dahulu, sebelum ada AC split orang menggunakan windows ( jendela ) yang antara indoor dan outdoor digabung menjadi 1 yang diletakkan di ventilasi jendela dengan evaporator menghadap kedalam ruangan dan kondensor menghadap keluar ruanagan. AC jenis windows ini mempunyai kelemahan dengan suara berisik yang kan terdengar didalam ruangan, sedangkan AC split suara berisik berada ditempat yang jauh dari ruangan.
Untuk AC industri/ komersial, berbeda dengan AC rumah tangga yang bberdaya kecil. AC industri ini digunakan pada mall, rumah sakit, hotel dan gedung gedung pertemuan dengan daya AC yang besar. Jenis AC unutk industri biasanya berupa AC sentral yang terdiri dari stu alat dan udara dingin yang dihasilkannya disebarkan keseluruh gedung yang didinginkan. AC untuk industri membutuhkan biaya yang sangat besar sehingga perlu perawatan yang intensif unutk mencegah kerusakan. Pipa pipa yang digunakan unutk menyebarkan udara dingin tersebut dinamakan ducting dan tempat keluarnya udara dingin disebut diffuser.
Untuk AC mobil, memiliki beberapa keunikan dibandingkan dengan residental AC. AC Mobil mempunyai masalah yang tidak dijumpai pada system refrigerasi dan tata udara lainnya. Dibandingkan dengan gedung, interior mobil relatif kecil. Walau begitu, bila mobil bergerak dengan kecepatan tinggi dihari yang panas, ia harus dapat memberikan efek pendingin yang cukup untuk mempertahankan suhu interior pada kondisi yang nyaman. Demikian juga bila mobil bergerak lambat dijalan yang ramai, AC mobil juga harus dapat memberikan kenyamanan bagi penumpangnya. Inilah bagian yang paling krusial yang harus dipertimbangkan pada aplikasi AC mobil  
B. Beberapa Hal yang harus diperhatikan dalam reparasi AC
1. Sebelum AC diservis, arus AC harus dilepas
2. Evaporator dan kondensor harus bersih dari debu/ kotoran
3. jika terjadi kerusakan yang fatal, maka tentukan dulu bagi indoor atau outdoor yang rusak
4. hati-hati pada saat membuka tutup indoor atau outdoor dan tentukan komponen yang rusak dengan alat servis AC
5. jika kekurangan refrigan, tambahkan refrigan dengan isi yang sesuai dengan ketentuan pabrik
6. setelah selesai,kembalikan tutup indoor/outdorr pada keadaan semula
7. uji coba kembali AC dengan cara dihubungkan dengan listrik

c. Gambar siklus refrigeran dalam pipa AC


D. Management Risiko
1.      Definisi Manajemen Risiko
Manajemen risiko adalah penerapan secara sistematis dari kebijakan manajemen, prosedur dan aktivitas dalam kegiatan identifikasi bahaya, analisa, penilaian, penanganan dan pemantauan serta review risiko.
2.      Tujuan Management Risiko
a.       Meminimalkan kerugian dan meningkatkan produktifitas
b.      Memotong mata rantai kejadian kerugian sehingga efeknya tidak terjadi
c.       Mencegah terjadinya kerugian berupa cidera dan penyakit akibat kerja atau hubungan kerja
3.      Tahapan Management Risiko
a.       Persiapan
b.      Identifikasi bahaya
c.       Analisa risiko
d.      Evaluasi risiko
e.       Pengendalian risiko





BAB III

PROSES KEGIATAN          

A.    Persiapan
1. permohonan Izin
Proses kegiatan ini dilakukan di SMKN 5 PEKANBARU dan dilakukan pada hari sabtu tanggal 2 februari. Permohonan izin penelitian diserahkan kepada kepala program keahlian TPTU yaitu Bapak Hardiyanto, Spd.

2. Menyiapkan Alat, Sarana Dan Ruangan
a. Alat yang dipersiapkan : multimeter, tang ampere, obeng, flaring tool, swagging tool,
tang, martil, tangga, alat-alat las, manivold meter
b. Bahan : Tabung refrigeran, gas asetelin, gas oksigen, elektroda las, boraks, komponen yang rusak, misal kompresor, termostat, overload, pipa kapiler, filter, timer.
c. Ruangan harus terang dan para teknisi harus memakai APD.
d. Proses kegiatan harus sesuai dengan SOP













3. Menyiapkan Diri Sendiri ( Teknisi AC )
a.      Teknisi AC  dalam keadaan sehat, tidak sakit, sudah siap mental.
b.      Teknisi AC telah menguasai ilmu AC (profesional).
1)      Teknisi AC sudah pernah mereparasi AC sebelumnya.
2)      Teknisi AC dalam bimbingan kepala program keahlian.



BAB IV

MANAJEMEN RISIKO

A.    Persiapan
1.                                                                                                      Ruang Lingkup Management Risiko
Management risiko dilakukan di SMKN 5 PEKANBARU yang telah berdiri sejak Desember 1994.

2.                                                                                                      Personil Yang Terlibat
1)      Personil inti/ yang dinilai risikonya:
a.       Kepala program keahlian.
b.      Siswa yang melakukan praktek.
2)      Personil lain yang terlibat dalam kegiatan bekam:
a.    Kepala Sekolah.
b.   Seluruh Guru SMKN 5 Pekanbaru


3.      Standar penentuan Kriteria Risiko
Penentuan Risiko diambil berdasarkan persentasi angka kejadian ataupun angka prediksi kejadian frekuensi tertinggi yang sering terjadi serta tingkat keparahan kejadian melalui analisa management risiko.

4.      Mekanisme Pelaporan
Laporan diberikan kepada SMKN 5 Pekanbaru.

5.  Dokument yang terkait
a.       Hasil wawancara dengan kepala program keahlian TPTU, siswa yang praktek.
b.      Dokumentasi foto.
c.       Literature/ referensi serta hasil penelitian

B.     Identifikasi Bahaya
Dilakukan melalui inspeksi, monitoring, wawancara, dan konsultasi dengan kepala program keahlian TPTU, para siswa, dan dua orang tua siswa. Secara umum kegiatan reparasi AC di SMKN 5 sudah menggunakan SOP secara optimal, sehingga identifikasi bahaya dalam kegiatan reparasi ini lebih berupa prediksi seandainya kegiatan tersebut dilakukan tidak sesuai SOP dan tanpa APD sebagaimana kebanyakan para teknisi AC saat ini.
Menurut pengamatan penulis di lapangan, pada prinsifnya di SMKN 5 dalam praktek reparasi sudah mengikuti standar SOP terutama dalam masalah reparasi komponen yang rusak kecuali dalam faktor ergonomik.

C.    Analisa Risiko
1.  Daftar kemungkinan dan konsekuensi dari bahaya pekerjaan bekam baik untuk terapist maupun pasien.
Jenis Bahaya

Risiko
Konsekuensi
Faktor fisik
     §  Pencahayaan yang kurang


      §  Suhu panas



§  Visual acut

§  Biang keringat, Dehidrasi


§  Terluka pada saat membetulkan AC

§  Kelelahan.

Faktor ergonomic
§ Jogkok terlalu lama pada saat mengelas

§ Kepala terlalu lama menengadah keatas pada saat memperbaiki AC

§  Musculoskeletal

§  Musculoskeletal
§  Somatopsikis







§ Lumbago pain

§ Neck stifness

Faktor Psikososial

      §  Jam kerja yang lama/ istirahat kurang.
      §  Perangai pelanggan  yang bermacam-macam



§  Stress

§  Stress



§  loss concentration.
§  Pusing




Alat Perlindungan Diri dan  Peralatan Air Conditioner.
      §  Pengelasan yang tidak memakai sarung tangan dan kaca mata khusus.

§  Tidak menggunakan tangga saat memperbaiki AC yang berada diatas

§  Memotong besi tidak memakai APD

     §  Tidak adanya alat pembuangan air pada AC

§  Kecelakaan




§  Kecelakaan



§  Kecelakaan


§  Licin, lembab, air tergenang

§  Teknisi bisa terkena luka bakar pada kulit


§  Teknisi bisa terjatuh dan mengalami patah tulang
§  Jari Teknisi bisa terpotong akibat benda tajam
§  Orang yang lewat disekitar lantai yang licin terpeleset, tembok menjadi berlumut.
Kecelakaan service AC
     §  Terjatuh dari ketinggian.
     §  Meletakkan AC dengan posisi terlalu kebawah
     §  Kesalahan dalam memperbaiki AC, keliru dalam mengganti peralatan yang diservis

§  Patah tulang        
§  Berbahaya bagi orang sekitar

§  Pelanggan Komplain

           § Lumpuh,tengkak.
           § Tersengat listrik


§ Kepercayaan pelanggan hilang


2. Bentuk analisa semikualitatif
Tingkat Keparahan
Kemungkinan Terjadi
Jarang Terjadi

(1)
Kurang mungkin terjadi
(2)
Mungkin terjadi
(3)
Sangat Mungkin terjadi
(4)
Hampir Pasti terjadi
(5)
(1)
Tidak ada pengaruh





(2)
Pengaruh sangat ringan
§ Jam kerja yang lama/ istirahat kurang.

§ Tidak adanya alat pembuangan air pada AC
(2)

§  Perangai pelanggan yang bermacam-macam
(4)



(3)
Pengaruh ringan


§ Pencahayaan yang kurang
§ Suhu panas
(6)

§ Jogkok terlalu lama pada saat mengelas
§ Kepala terlalu lama menengadah keatas pada saat memperbaiki AC
(15)
(4)
Pengaruh serius

Tidak menggunakan tali tangga saat memperbaiki AC yang berada diatas
(8)
§ Pengelasan yang tidak memakai sarung tangan dan kaca mata khusus.

(12)



(5)
Pengaruh fatal

§  Terjatuh dari ketinggian.
§   Meletakkan AC dengan posisi terlalu kebawah
§  Kesalahan dalam memperbaiki AC, keliru dalam mengganti peralatan yang diservis
(5)

§ Memotong besi tidak memakai APD
(10)





B. Evaluasi Risiko
Dari tabel analisa semikualitatif ditentukan prioritas risiko sebagai berikut:

NO.
HAZARD
SKOR
TAFSIRAN
1.
§ Jogkok terlalu lama pada saat mengelas
§ Kepala terlalu lama menengadah keatas pada saat memperbaiki AC

15
§  Hampir pasti terjadi
§  Pengaruh ringan
2.
§ Pengelasan yang tidak memakai sarung tangan dan kaca mata khusus.

12
§  Mungkin terjadi
§  Pengaruh serius



3.
§ Memotong besi tidak memakai APD

10
§  Kurang mungkin terjadi
§  Pengaruh fatal
4.
Tidak menggunakan tali tangga saat memperbaiki AC yang berada diatas

8
§  Kurang mungkin terjadi
§  Pengaruh serius
5.
             §  Pencahayaan yang kurang
            §  Suhu panas
6
§  Mungkin terjadi
§  Pengaruh ringan
6.
§  Terjatuh dari ketinggian.
§   Meletakkan AC dengan posisi terlalu kebawah
§  Kesalahan dalam memperbaiki AC, keliru dalam mengganti peralatan yang diservis

5
§  Jarang terjadi
§  Pengaruh fatal
7.
§ Perangai pelanggan yang bermacam-macam
4
§  Kurang mungkin terjadi
§  Pengaruh sangat ringan
8.
Jam kerja yang lama/ istirahat kurang.

§ Tidak adanya alat pembuangan air pada AC

2
§  Jarang terjadi
§  Pengaruh sangat ringan


C. Pengendalian Risiko
NO.
HAZARD
PENGENDALIAN
1.
§ Jogkok terlalu lama pada saat mengelas
§ Kepala terlalu lama menengadah keatas pada saat memperbaiki AC

§  Wajib ada meja dan kursi duduk untuk teknisi.
§  Relaksasi setelah menyervis AC.
2.
§ Pengelasan yang tidak memakai sarung tangan dan kaca mata khusus.

§  Diberikan pemahaman keuntungan memakai masker dan kacamata serta perbandingan harga masker dengan risiko yang harus diterima.
3.
§ Memotong besi tidak memakai APD

§  Diberi pemahaman begitu pentingnya memakai APD pada tangan saat memotong besi
3.
Tidak menggunakan tali tangga saat memperbaiki AC yang berada diatas
§  Diberi pemahaman pentingnya menggunakan tali untuk memperkecil resiko cedera pada saat terjatuh
4.
            §  Pencahayaan yang kurang
            §  Suhu panas
§  Dipasang lampu listrik yang memadai.
§  Minimal harus ada kipas angin.
5.
§  Terjatuh dari ketinggian.
§   Meletakkan AC dengan posisi terlalu kebawah
§  Kesalahan dalam memperbaiki AC, keliru dalam mengganti peralatan yang diservis

§  Selalu menggunakan APD sesuai standar pada saat menyervis AC
§  Berdiskusi dengan pelanggan untuk memasang AC dengan ketinggian yang aman.
§  Lebih teliti pada saat menyervis AC
6.
§ Perangai pelanggan yang bermacam-macam
§  Para teknisi AC  harus dibekali juga dengan ilmu psikologi.
7.
Jam kerja yang lama/ istirahat kurang.

§ Tidak adanya alat pembuangan air pada AC

§  Bekerja  dengan memakai Shift, membatasi jumlah pelanggan, dan selalu ada jadwal istirahat atau relaksasi setiap 30 menit selama 5 menit.
§  Dipasang alat pembuangan air AC pada saat memasang AC pada rumah atau perkantoran.






BAB V
PENUTUP
A.     Kesimpulan
1.      Air Conditioner Merupakan sebuah alat yang mampu mengkondisikan udara. Dengan kata lain,AC Berfungsi Sebagai Penyejuk Udara yang diinginkan ( sejuk atau dingin ) dan nyaman bagitubuh. Ac Lebih Banyak digunakan di wilayah yang beriklim tropis dengan kondisi temperatur udara yang relatif tinggi (panas).
2.      Praktek reparasi AC di SMKN 5 Pekanbaru sudah melakukan SOP secara ketat, hanya saja temuan penulis ada sedikit kekurangan yang perlu diperbaiki yaitu faktor ergonomik, yaitu pengelasan sering dilakukan dengan posisi jongkok dan dalam selang waktu cukup lama. Satu kali reparasi biasanya dilakukan selama 2 jam.
3.      Setelah diadakan penelitian, penulis mendapatkan 8 (delapan) tingkat risiko dari kegiatan reparasi AC. Dengan analisa semi kualitatif, didapatkan skor tertinggi 15 dari maksimum 25 yang disebabkan oleh hazard faktor ergonomic dengan tafsiran probabilitasnya hampir pasti terjadi dan pengaruh ringan. Kemudian skor minimal adalah 2 dari faktor psikososial khususnya dari sisi manajemen waktu, yaitu reparasi AC  yang panjang sementara waktu istirahat yang relatif kurang.

B.     Saran-saran

1.      Untuk selalu diadakan pelatihan secara berkala bagi teknisi AC untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.
2.      Para calon teknisi AC sebiknya dilatih untuk praktek kerja di dunia kerja sebenarnya sebelum lulus dari pendidikan formal agar setelah lulus dapat menjadi teknisi yang profesional dan berguna didunia kerja.
DAFTAR PUSTAKA

Sumber buku :
E. Karyanto Dipl. Dkk.2007.Penunutun praktikum operasi perawatan refrigerasi dan air conditioner. Jakarta:Restu Agung.
M.E.Diks.2004. Pengetahuan Praktis Teknik Pendingin dan Reparasinya. Jakarta : Bumi Aksara.
Syamsuri Hasan dkk. 2008 . Sistem Refrigerasi dan Tata Udara Jilid 1. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan.

Sumber Internet :


1 komentar: