BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kehidupan manusia memang tidak bisa
dipisahkan oleh teknologi. Begitulah kenyataan yang terjadi pada zaman modern
ini. Manusia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada alam. Mereka telah
menciptakan berbagai macam teknologi yang dapat membantu manusia. Salah satunya
adalah Air Conditioner. Teknologi ini memang cukup populer sebagai pendingin
udara. AC merupakan alat pendingin udara selain kipas angin. Bahkan hampir
disetiap rumah memiliki AC. Tidak digunakan untuk mendinginkan ruangan saja, AC
banyak dipasang di mobil-mobil yang beredar dipasaran. AC sepertinya merupakan
alat pendingin udara yang vital.
Dibalik kepopuleran AC sebagai alat
pendingin udara, banyak para teknisi yang bekerja dibelakangnya. Mulai dari
membuat komponen komponen AC, merakit komponen AC, hingga memperbaiki kerusakan
AC. Pada kesempatan ini, penulis membahas tentang calon teknisi AC yang kelak
akan bekerja di dunia kerja. Meskipun belum sepenuhnya berperan dalam dunia
kerja, namun tentunya dalam melakukan praktek kerja para teknisi mempunyai
potensi hazard yang dapat membahayakan mereka. Potensi- potensi hazard tersebut
akan dibahas pada bagian selanjutnya dan penulis akan memberikan solusi
terhadap hal tersebut.
B. Tujuan Penelitian
1.
Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana manajemen
risiko pada kegiatan reparasi AC di SMKN 5 PEKANBARU.
2.
Tujuan khusus
1)
Untuk mengetahui persiapan
dalam manajemen risiko pada Teknisi
AC
2)
Untuk mengetahui identifikasi
dalam manajemen risiko pada teknisi
AC.
3)
Untuk mengetahui analisa risiko
dalam manajemen risiko pada teknisi
AC.
4)
Untuk mengetahui evaluasi
risiko dalam manajemen risiko pada
teknisi AC.
5)
Untuk mengetahui pengendalian
risiko dalam manajemem risiko pada
teknisi AC.
c.
Manfa’at Penelitian
1.
Bagi teknisi
1)
Dapat menjadi referensi bagi
para teknisi AC tentang potensi bahaya
kecelakaan kerja yang bisa didapat dari rutinitas bekerja sehari-hari dari yang
paling sering terjadi sampai kepada kecelakaan paling berat yang mungkin
dihadapi teknisi AC
2)
Dapat mengetahui cara pengendalian risiko guna
mengurangi bahaya kecelakaan kerja pada teknisi AC.
2.
Bagi penulis
1)
Menambah pengetahuan tentang
manajemen risiko bagi penulis
2)
Sebagai referensi bagi orang tua penulis yang membimbing para calon
teknisi AC
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Pengertian AC
AC
adalah suatu alat elektronik yang berfungsi untuk mendingikan suatu ruangan.
Alat alat AC terdiri dari :
1. Kompresor yang
berguna untuk memompa isi refrigan kedalam kondensor,
2.kondensor fungsinya
untuk kondensasi yang merubah refrigan bentuk gas menjadi cair,
3. pipa kapiler yang
berguna untuk membuat tekanan tinggi menjadi rendah
4. evaporator, yang
berguna untuk mengubah refrigan bentuk cair menjadi gas kembali. Refrigan dalam
evaporator terjadi penguapan sehingga membutuhkan kalor, kalor ini diambil dari
pipa evaporator sehingga ruangan sekitar evaporator menjadi dingin
Pada
saat ini AC ( air conditioner ) untuk rumah tangga berjenis AC Split ( terpisah
) Yang berarti indoor dan outdoor diletakkan secara terpisah. Indoor berada
didalam ruangan yang didalamnya terdapat evaporator sehingga ruangan menjadi
dingin. Sedangkan outdoor didalamnya terdapat kondensor sehingga kalor dibuang
diluar ruangan. Pada zaman dahulu, sebelum ada AC split orang menggunakan windows
( jendela ) yang antara indoor dan outdoor digabung menjadi 1 yang diletakkan
di ventilasi jendela dengan evaporator menghadap kedalam ruangan dan kondensor
menghadap keluar ruanagan. AC jenis windows ini mempunyai kelemahan dengan
suara berisik yang kan terdengar didalam ruangan, sedangkan AC split suara
berisik berada ditempat yang jauh dari ruangan.
Untuk
AC industri/ komersial, berbeda dengan AC rumah tangga yang bberdaya kecil. AC
industri ini digunakan pada mall, rumah sakit, hotel dan gedung gedung
pertemuan dengan daya AC yang besar. Jenis AC unutk industri biasanya berupa AC
sentral yang terdiri dari stu alat dan udara dingin yang dihasilkannya
disebarkan keseluruh gedung yang didinginkan. AC untuk industri membutuhkan
biaya yang sangat besar sehingga perlu perawatan yang intensif unutk mencegah
kerusakan. Pipa pipa yang digunakan unutk menyebarkan udara dingin tersebut
dinamakan ducting dan tempat keluarnya udara dingin disebut diffuser.
Untuk
AC mobil, memiliki beberapa keunikan dibandingkan dengan residental AC. AC
Mobil mempunyai masalah yang tidak dijumpai pada system refrigerasi dan tata
udara lainnya. Dibandingkan dengan gedung, interior mobil relatif kecil. Walau
begitu, bila mobil bergerak dengan kecepatan tinggi dihari yang panas, ia harus
dapat memberikan efek pendingin yang cukup untuk mempertahankan suhu interior
pada kondisi yang nyaman. Demikian juga bila mobil bergerak lambat dijalan yang
ramai, AC mobil juga harus dapat memberikan kenyamanan bagi penumpangnya.
Inilah bagian yang paling krusial yang harus dipertimbangkan pada aplikasi AC
mobil
B.
Beberapa Hal yang harus diperhatikan dalam reparasi AC
1. Sebelum AC diservis,
arus AC harus dilepas
2. Evaporator dan
kondensor harus bersih dari debu/ kotoran
3. jika terjadi kerusakan
yang fatal, maka tentukan dulu bagi indoor atau outdoor yang rusak
4. hati-hati pada saat
membuka tutup indoor atau outdoor dan tentukan komponen yang rusak dengan alat
servis AC
5. jika kekurangan
refrigan, tambahkan refrigan dengan isi yang sesuai dengan ketentuan pabrik
6. setelah
selesai,kembalikan tutup indoor/outdorr pada keadaan semula
7. uji coba kembali AC
dengan cara dihubungkan dengan listrik
c.
Gambar siklus refrigeran dalam pipa AC
D. Management Risiko
1.
Definisi Manajemen Risiko
Manajemen risiko adalah penerapan secara sistematis dari kebijakan
manajemen, prosedur dan aktivitas dalam kegiatan identifikasi bahaya, analisa,
penilaian, penanganan dan pemantauan serta review risiko.
2.
Tujuan
Management Risiko
a.
Meminimalkan
kerugian dan meningkatkan produktifitas
b.
Memotong
mata rantai kejadian kerugian sehingga efeknya tidak terjadi
c.
Mencegah
terjadinya kerugian berupa cidera dan penyakit akibat kerja atau hubungan kerja
3.
Tahapan
Management Risiko
a.
Persiapan
b.
Identifikasi
bahaya
c.
Analisa
risiko
d.
Evaluasi
risiko
e.
Pengendalian
risiko
BAB III
PROSES KEGIATAN
A. Persiapan
1.
permohonan Izin
Proses kegiatan ini
dilakukan di SMKN 5 PEKANBARU dan dilakukan pada hari sabtu tanggal 2 februari.
Permohonan izin penelitian diserahkan kepada kepala program keahlian TPTU yaitu
Bapak Hardiyanto, Spd.
2. Menyiapkan Alat, Sarana Dan Ruangan
a.
Alat yang dipersiapkan : multimeter,
tang ampere, obeng, flaring tool, swagging tool,
tang,
martil, tangga, alat-alat las, manivold meter
b.
Bahan : Tabung refrigeran, gas asetelin, gas oksigen, elektroda las, boraks, komponen
yang rusak, misal kompresor, termostat, overload, pipa kapiler, filter, timer.
c.
Ruangan harus terang dan para teknisi harus memakai APD.
d.
Proses kegiatan harus sesuai dengan SOP
3. Menyiapkan
Diri Sendiri ( Teknisi AC )
a.
Teknisi
AC dalam keadaan sehat, tidak sakit,
sudah siap mental.
b.
Teknisi
AC telah menguasai ilmu AC (profesional).
1)
Teknisi
AC sudah pernah mereparasi
AC sebelumnya.
2)
Teknisi
AC dalam bimbingan kepala program keahlian.
BAB IV
MANAJEMEN RISIKO
A.
Persiapan
1.
Ruang Lingkup Management Risiko
Management risiko dilakukan di SMKN 5 PEKANBARU yang telah berdiri sejak Desember 1994.
2.
Personil Yang Terlibat
1) Personil inti/ yang dinilai risikonya:
a. Kepala program keahlian.
b. Siswa yang melakukan praktek.
2) Personil lain yang terlibat dalam kegiatan
bekam:
a.
Kepala
Sekolah.
b.
Seluruh Guru SMKN 5
Pekanbaru
3.
Standar penentuan Kriteria Risiko
Penentuan Risiko diambil berdasarkan persentasi angka kejadian
ataupun angka prediksi kejadian frekuensi tertinggi yang sering terjadi serta
tingkat keparahan kejadian melalui analisa management risiko.
4.
Mekanisme Pelaporan
Laporan diberikan kepada SMKN 5 Pekanbaru.
5. Dokument yang terkait
a.
Hasil
wawancara dengan kepala
program keahlian TPTU, siswa yang praktek.
b.
Dokumentasi
foto.
c.
Literature/
referensi serta hasil penelitian
B. Identifikasi
Bahaya
Dilakukan melalui inspeksi, monitoring, wawancara, dan konsultasi
dengan kepala program keahlian TPTU, para siswa, dan dua orang tua
siswa. Secara umum kegiatan reparasi AC di SMKN 5 sudah menggunakan SOP secara optimal, sehingga identifikasi
bahaya dalam kegiatan reparasi ini lebih berupa prediksi seandainya kegiatan tersebut dilakukan
tidak sesuai SOP dan tanpa APD sebagaimana kebanyakan para teknisi AC saat ini.
Menurut pengamatan penulis di lapangan, pada prinsifnya di SMKN 5 dalam praktek reparasi sudah mengikuti standar SOP terutama dalam masalah reparasi komponen yang rusak kecuali dalam faktor ergonomik.
C.
Analisa Risiko
1. Daftar kemungkinan dan
konsekuensi dari bahaya pekerjaan bekam baik untuk terapist maupun pasien.
|
Jenis Bahaya
|
Risiko
|
Konsekuensi
|
|
Faktor fisik
§ Pencahayaan yang kurang
§ Suhu panas
|
§ Visual acut
§ Biang keringat, Dehidrasi
|
§ Terluka pada saat membetulkan AC
§ Kelelahan.
|
|
Faktor ergonomic
§ Jogkok terlalu lama pada saat mengelas
§ Kepala terlalu lama menengadah keatas pada saat
memperbaiki AC
|
§ Musculoskeletal
§ Musculoskeletal
§ Somatopsikis
|
§ Lumbago pain
§ Neck stifness
|
|
Faktor Psikososial
§ Jam kerja yang lama/ istirahat kurang.
§ Perangai pelanggan yang bermacam-macam
|
§ Stress
§ Stress
|
§ loss concentration.
§ Pusing
|
|
Alat Perlindungan Diri dan Peralatan Air Conditioner.
§ Pengelasan
yang tidak memakai sarung tangan dan kaca
mata khusus.
§ Tidak menggunakan tangga saat memperbaiki AC yang
berada diatas
§ Memotong besi tidak memakai APD
§ Tidak adanya alat pembuangan air pada AC
|
§ Kecelakaan
§ Kecelakaan
§ Kecelakaan
§ Licin, lembab, air tergenang
|
§ Teknisi bisa terkena luka bakar pada kulit
§ Teknisi bisa terjatuh dan mengalami patah tulang
§ Jari Teknisi bisa terpotong akibat benda tajam
§ Orang yang lewat disekitar lantai yang licin
terpeleset, tembok menjadi berlumut.
|
|
Kecelakaan service AC
§ Terjatuh dari ketinggian.
§ Meletakkan AC dengan posisi terlalu kebawah
§ Kesalahan dalam memperbaiki AC, keliru dalam mengganti
peralatan yang diservis
|
§ Patah tulang
§ Berbahaya bagi orang sekitar
§ Pelanggan Komplain
|
§ Lumpuh,tengkak.
§ Tersengat listrik
§ Kepercayaan pelanggan hilang
|
2. Bentuk
analisa semikualitatif
|
Tingkat Keparahan
|
Kemungkinan Terjadi
|
||||
|
Jarang Terjadi
(1)
|
Kurang mungkin terjadi
(2)
|
Mungkin terjadi
(3)
|
Sangat Mungkin terjadi
(4)
|
Hampir Pasti terjadi
(5)
|
|
|
(1)
Tidak ada pengaruh
|
|
|
|
|
|
|
(2)
Pengaruh sangat ringan
|
§ Jam kerja yang lama/ istirahat kurang.
§ Tidak adanya alat pembuangan air pada AC
(2)
|
§ Perangai pelanggan
yang bermacam-macam
(4)
|
|
|
|
|
(3)
Pengaruh ringan
|
|
|
§ Pencahayaan yang kurang
§ Suhu panas
(6)
|
|
§ Jogkok terlalu lama pada saat mengelas
§ Kepala terlalu lama menengadah keatas pada saat
memperbaiki AC
(15)
|
|
(4)
Pengaruh serius
|
|
Tidak menggunakan tali tangga saat
memperbaiki AC yang berada diatas
(8)
|
§ Pengelasan
yang tidak memakai sarung tangan dan kaca
mata khusus.
(12)
|
|
|
|
(5)
Pengaruh fatal
|
§ Terjatuh dari ketinggian.
§ Meletakkan AC
dengan posisi terlalu kebawah
§ Kesalahan dalam memperbaiki AC, keliru dalam mengganti
peralatan yang diservis
(5)
|
§ Memotong besi tidak memakai APD
(10)
|
|
|
|
B.
Evaluasi Risiko
Dari tabel analisa semikualitatif ditentukan prioritas risiko
sebagai berikut:
|
NO.
|
HAZARD
|
SKOR
|
TAFSIRAN
|
|
1.
|
§ Jogkok terlalu lama pada saat mengelas
§ Kepala terlalu lama menengadah keatas pada saat
memperbaiki AC
|
15
|
§
Hampir
pasti terjadi
§
Pengaruh
ringan
|
|
2.
|
§ Pengelasan
yang tidak memakai sarung tangan dan kaca
mata khusus.
|
12
|
§
Mungkin
terjadi
§
Pengaruh
serius
|
|
3.
|
§ Memotong besi tidak memakai APD
|
10
|
§
Kurang mungkin terjadi
§
Pengaruh fatal
|
|
4.
|
Tidak menggunakan tali tangga saat
memperbaiki AC yang berada diatas
|
8
|
§
Kurang
mungkin terjadi
§
Pengaruh
serius
|
|
5.
|
§
Pencahayaan
yang kurang
§
Suhu panas
|
6
|
§
Mungkin
terjadi
§
Pengaruh
ringan
|
|
6.
|
§ Terjatuh dari ketinggian.
§ Meletakkan AC
dengan posisi terlalu kebawah
§ Kesalahan dalam memperbaiki AC, keliru dalam mengganti
peralatan yang diservis
|
5
|
§
Jarang
terjadi
§
Pengaruh
fatal
|
|
7.
|
§
Perangai pelanggan yang bermacam-macam
|
4
|
§
Kurang
mungkin terjadi
§
Pengaruh
sangat ringan
|
|
8.
|
Jam kerja yang
lama/ istirahat kurang.
§ Tidak adanya alat pembuangan air pada AC
|
2
|
§
Jarang
terjadi
§
Pengaruh
sangat ringan
|
C. Pengendalian Risiko
|
NO.
|
HAZARD
|
PENGENDALIAN
|
|
1.
|
§ Jogkok terlalu lama pada saat mengelas
§ Kepala terlalu lama menengadah keatas pada saat
memperbaiki AC
|
§
Wajib
ada meja dan kursi duduk
untuk teknisi.
§ Relaksasi setelah menyervis AC.
|
|
2.
|
§ Pengelasan
yang tidak memakai sarung tangan dan kaca
mata khusus.
|
§
Diberikan
pemahaman keuntungan memakai masker dan kacamata serta perbandingan harga masker dengan risiko yang harus
diterima.
|
|
3.
|
§ Memotong besi tidak memakai APD
|
§
Diberi pemahaman begitu pentingnya memakai APD pada tangan saat memotong
besi
|
|
3.
|
Tidak menggunakan tali tangga saat
memperbaiki AC yang berada diatas
|
§ Diberi pemahaman pentingnya
menggunakan tali untuk memperkecil resiko cedera pada saat terjatuh
|
|
4.
|
§
Pencahayaan
yang kurang
§
Suhu panas
|
§
Dipasang
lampu listrik yang memadai.
§ Minimal harus ada
kipas angin.
|
|
5.
|
§ Terjatuh dari ketinggian.
§ Meletakkan AC
dengan posisi terlalu kebawah
§ Kesalahan dalam memperbaiki AC, keliru dalam mengganti
peralatan yang diservis
|
§
Selalu menggunakan APD sesuai standar pada saat menyervis AC
§
Berdiskusi dengan pelanggan untuk memasang AC dengan ketinggian yang aman.
§
Lebih teliti pada saat menyervis AC
|
|
6.
|
§
Perangai pelanggan yang bermacam-macam
|
§
Para teknisi AC harus dibekali juga dengan ilmu psikologi.
|
|
7.
|
Jam kerja yang
lama/ istirahat kurang.
§ Tidak adanya alat pembuangan air pada AC
|
§
Bekerja dengan memakai Shift, membatasi jumlah pelanggan, dan selalu ada jadwal istirahat atau
relaksasi setiap 30 menit selama 5 menit.
§
Dipasang alat pembuangan air AC pada saat memasang AC pada rumah atau
perkantoran.
|
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Air Conditioner Merupakan sebuah alat yang mampu mengkondisikan udara.
Dengan kata lain,AC Berfungsi Sebagai Penyejuk Udara yang diinginkan ( sejuk
atau dingin ) dan nyaman bagitubuh. Ac Lebih Banyak digunakan di wilayah yang
beriklim tropis dengan kondisi temperatur udara yang relatif tinggi
(panas).
2.
Praktek reparasi AC di SMKN 5 Pekanbaru sudah melakukan SOP secara
ketat, hanya saja temuan penulis ada sedikit kekurangan yang perlu diperbaiki
yaitu faktor ergonomik, yaitu pengelasan sering dilakukan dengan posisi jongkok dan dalam selang waktu cukup lama. Satu kali reparasi biasanya dilakukan
selama 2 jam.
3.
Setelah diadakan penelitian, penulis
mendapatkan 8 (delapan) tingkat risiko
dari kegiatan reparasi
AC. Dengan analisa semi kualitatif, didapatkan skor tertinggi 15 dari maksimum 25 yang disebabkan
oleh hazard faktor
ergonomic dengan tafsiran probabilitasnya hampir pasti terjadi dan pengaruh
ringan. Kemudian skor minimal adalah 2 dari faktor psikososial khususnya dari
sisi manajemen waktu, yaitu reparasi AC yang panjang
sementara waktu istirahat yang relatif kurang.
B. Saran-saran
1.
Untuk selalu diadakan pelatihan secara
berkala bagi teknisi AC untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya.
2.
Para
calon teknisi AC sebiknya dilatih untuk praktek kerja di dunia kerja sebenarnya
sebelum lulus dari pendidikan formal agar setelah lulus dapat menjadi teknisi
yang profesional dan berguna didunia kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Sumber
buku :
E.
Karyanto Dipl. Dkk.2007.Penunutun
praktikum operasi perawatan refrigerasi dan air conditioner. Jakarta:Restu
Agung.
M.E.Diks.2004.
Pengetahuan Praktis Teknik Pendingin dan
Reparasinya. Jakarta : Bumi Aksara.
Syamsuri
Hasan dkk. 2008 . Sistem Refrigerasi dan
Tata Udara Jilid 1. Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuruan.
Sumber
Internet :


ini sbagai acuan kami mendiddik para calon teknisi AC
BalasHapus